oleh

Perang Dagang Dicuekin, Harga Minyak Melesat Bethel

f0e71819-ccd9-4e2d-ad9a-06854654d8eb_169Harga minyak jenis brent kontrak pengiriman
Oktober 2018 naik 0,29% ke level US$74,95/barel, sementara
harga minyak light sweet kontrak Oktober 2018 juga menguat
sebesar 0,43% ke US$68,12/barel pada perdagangan hari ini Jumat
(24/08/2018) hingga pukul 09.53 WIB.

Harga sang emas hitam mampu melesat setelah mengakhiri
perdagangan kemarin dengan koreksi tipis. Harga minyak light
sweet yang mejadi acuan di AS turun 0,04%, sementara brent yang
menjadi acuan di Eropa melemah 0,07%. Pemberat harga minyak
datang dari memanasnya tensi perang dagang AS-China.

Pada siang hari kemarin waktu Indonesia, AS telah resmi
menaikkan bea masuk bagi produk impor asal China senilai US$16
miliar menjadi 25%. Beberapa produk yang terpengaruh kebijakan
ini diantaranya adalah semikonduktor, bahan kimia, plastik, dan
sepeda motor.

Di waktu yang bersamaan, China juga mengaktifkan bea masuk
balasan bagi sejumlah produk asal AS bernilai sama (US$16
miliar), yang mencakup bahan bakar, produk-produk baja, mobil,
dan peralatan medis, seperti dilaporkan kantor berita negara
Xinhua mengutip pengumuman dari Komisi Bea Cukai China.

Sebagai informasi, sejak tanggal 22 Agustus, AS dan China
sebenarnya telah resmi menggelar perundingan dagang di
Washington.  Namun, hari ini pertemuan itu berakhir
anti-klimaks, tanpa terobosan apapun. Kini, kedua raksasa
ekonomi dunia itu telah saling mengenakan bea masuk terhadap
produk senilai masing-masing US$50 miliar dan menambah
kecemasan akan terhambatnya pertumbuhan global.

Para ekonom telah mengatakan bahwa setiap produk senilai US$100
miliar yang terkena bea impor baru, akan menurunkan perdagangan
global sekitar 0,5%. Saat aktivitas ekonomi dan perdagangan
global melambat, maka permintaan energi pun akan berkurang. Hal
ini membuat investor berhati-hati, dan akhirnya menekan harga
minyak kemarin.

Meski demikian, kondisi pasokan global yang seret menyelamatkan
harga minyak pada hari ini.  Rilis resmi dari US
Energy Information Administration (EIA) menyatakan
cadangan minyak AS turun 5,8 juta barel pada pekan lalu.
Penurunan itu jauh lebih besar dibandingkan konsensus pasar
yang dihimpun Reuters, yaitu turun 1,5 juta barel.

Selain itu, investor masih mewaspadai sanksi AS kepada Iran.
Sanksi ini menargetkan sektor finansial per Agustus 2018, dan
akan mencakup ekspor minyak mentah pada November 2018
mendatang. Analis memprediksi sanksi tersebut dapat
menghilangkan 1 juta barel/hari pasokan minyak mentah Iran dari
pasar di tahun depan.

Beberapa perusahaan (khususnya dari Eropa) mulai hengkang dari
Iran karena takut terseret sanksi Negeri Adidaya. Presiden AS
Donald Trump memang mengancam akan memberi hukuman bagi siapa
saja yang terlibat bisnis dengan Iran.

Total, perusahaan energi asal Prancis, sudah resmi keluar dari
proyek gas di daerah Pars. “Proses penggantian dengan
perusahaan lain sedang berjalan,” ungkap Bijan Namdar Zanganeh,
Menteri Perminyakan Iran, seperti dikutip Reuters.

Total masuk ke proyek ini pada 2017 dengan investasi awal
mencapai US$1 miliar (Rp 14,57 triliun dengan kurs sekarang).
Namun mereka tidak kuasa membendung kekhawatiran terkena sanksi
dari Paman Trump. Saat, investor ramai-ramai kabur, kini
produksi minyak Iran pun ada di ujung tanduk.

 

Sumber : Cnbcindonesia.com

Source link

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed