Menengok Kampung Layang-Layang di Pasuruan

Menengok Kampung Layang-Layang di Pasuruan

78
0

Menengok Kampung Layang-Layang di Pasuruan

Desa di Kabupaten Pasuruan ini dijuluki Kampung Layang-layang. Sebagian besar warga terutama kaum hawa dan remaja bekerja sebagai pembuat layang-layang. Pekerjaan ini sudah ditekuni warga desa ini sejak puluhan tahun.

Sekilas, Desa Sekarputih, Kecamatan Gondangwetan, ini tampak seperti desa lain di wilayah ini. Tak ada sesuatu yang menonjol. Mata pencaharian penduduknya bertani dan sebagian bekerja sebagai karyawan pabrik.

Namun saat detikcom memasuki perkampungan, ada sesuatu yang menarik. Terlihat ibu-ibu, sejumlah pria, remaja putri dan bahkan para orang lanjut usia sibuk dengan aktivitasnya di teras rumah.

Hampir semua aktivitas yang dilakukan berhubungan dengan layang-layang, mulai memotong bambu menjadi bilah-bilah kecil, menyerut bilah-bilah kayu sampai dirasa pas untuk kerangka layang-layang. Ada juga yang telaten menimbang-nimbang kerangka dengan benang, lalu merangkainya menjadi kerangka layang-layang sempurna.

Menengok Kampung Layang-Layang di PasuruanFoto: Muhajir Arifin

Kerangka layang-layang tersebut kemudian ditumpuk hingga ratusan buah. “Sehari, bisa sampai 200-300 kerangka,” kata Juwariyah (47), salah satu perempuan yang sudah puluhan tahun bekerja membuat kerangka layang-layang saat berbincang dengan detikcom, Senin (3/4/2017).

Juwariyah mengatakan warga yang sudah puluhan tahun bekerja, bisa menghasilkan 300-400 kerangka layang-layang per hari. Namun, bagi remaja atau pemula, jumlah yang dihasilkan lebih sedikit.

“Di sini hampir semua warga, terutama ibu-ibu dan remaja putri bekerja membuat kerangka layang-layang. Sudah 40 tahun lebih warga di sini membuat layang-layang,” jelasnya.

Juwariyah mengatakan, meski penghasilan tak banyak, pekerjaan sebagai pembuat kerangka layang-layang tetap dilakukan untuk mengisi waktu luang. Kerajinan layang-layang di desa ini juga bisa membantu para ibu untuk mendapatkan penghasilan sampingan. Banyak juga para ibu yang tak terjun ke sawah sebagai buruh tani dan memilih bekerja membuat kerangka layang-layang.

Menengok Kampung Layang-Layang di PasuruanFoto: Muhajir Arifin

“Per buah (kerangka layang-layang) dihargai Rp 100 rupiah oleh pengepul. Kalau dapat 200, yang lumayan dapat Rp 20 ribu. Lumayan buat bantu suami, daripada ngerumpi,” terangnya.

Menurut Juwariyah, warga memang hanya membuat kerangka layang-layang. Para pengepul yang memberi samak atau kertas lalu menjualnya ke berbagai daerah. Para pengepul ini rata-rata memiliki usaha sablon untuk mencetak gambar atau tulisan pada kertas layang-layang.

“Di desa ini, ada sekitar sepuluh pengepul yang mengambil kerangka layang-layang dari warga. Para pengepul yang memberi kertas dan menjualnya. Saat ini permintaan pengepul tak seperti tahun-tahun sebelumnya, menurun,” terangnya.

Sulton, satu dari sedikit pria di desa ini yang menjadikan layang-layang sebagai pekerjaan utama mengatakan akan terus membuat layang-layang selama ada permintaan. “Saya sudah belasan tahun bikin layang-layang. Setiap hari saya bisa dapat 200 sampai 250 kerangka, kadang lebih. Selama ada permintaan dari pengepul saya akan terus bekerja,” katanya.

M Samsul, Sekretaris Desa Sekarputih, mengatakan jumlah perajin layang-layang terus menurun setiap tahun. Banyak faktor yang menyebabkannya antara lain permintaan yang menurun, sulitnya bahan baku bambu dan banyak pemuda yang memilih sebagai karyawan pabrik.

Menengok Kampung Layang-Layang di PasuruanFoto: Muhajir Arifin

“Kerajinan layang-layang menggerakkan ekonomi warga selama puluhan tahun. Saat ini jumlah terus menurun, sekitar 40 persen (menurun) dari sepuluh tahun lalu. Banyak faktor antara lain bakan baku bambu yang susah, permintaan menurun hingga banyak yang memilih jadi karyawan pabrik,” kata Samsul.

Zaini (51), salah seorang pengepul kerangka layang-layang mengatakan permintaan terhadap layang-layang terus menurun dari tahun ke tahun. Ia menyadari, banyaknya permainan digital membuat permainan layang-layang mulai ditinggalkan.

Zaini menjual layang-layang ke sejumlah juragan atau pedagang besar seharga Rp 400 – Rp 500 per buah. Layang-layang dari desa ini kemudian dijual ke sejumlah daerah di Jawa Timur bahkan sampai Bali, Kalimantan dan Papua.

“Kalau dulu, sepuluh tahun lalu, sehari saya bisa jual 10.000 layang-layang. Sekarang dua minggu sekali jual 40.000. Permintaan menurun, katanya barang susah laku. Ya mungkin karena semakin banyak permainan modern,” katanya.

Meski permintaan terus menurun, Zaini mengakui akan terus bertahan berbisnis layang-layang selama masih ada permintaan. “Bertahan saja selama bisa. Ini sudah saya geluti selama bertahun-tahun,” pungkasnya.

Sumber : Detik

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY